Tentang Laki - Laki Itu
.......
Siang
itu telepon genggamku jauh lebih sibuk dari biasanya. Entah kenapa
hari itu begitu banyak orang yang merasa butuh berbicara denganku; seputar data akhir bulan. Tepat pukul lima
belas lewat sepuluh, perempuan itu memberitahuku bahwa kamu ingin
bertemu -Perempuan itu Ibuku, perempuan yang dulu kamu tinggalkan, yang mungkin masih
mencintaimu, mungkin. Namun pastinya dia masih sama seperti
dulu, ketika kami
melihat pundakmu menghilang perlahan dari beranda.
Bagai
disambar petir, begitu kata orang namun tidak bagiku.
“Ayahmu
sakit, sudah sebulan lebih dia di sini untuk berobat. Katanya, dia
ingin ketemu dengan kita”,
begitu kata perempuan itu di telepon.
Tiba-tiba semuanya seperti berhenti mendadak, termasuk hitungan dalam
ingatanku yang seketika berputar tak beraturan hingga pada satu masa
itu. Masa dimana kita saling beradu, memaki, dan berharap salah satu
dari kita yang akan mati terlebih dulu. Langkahku menjadi terlalu
ringan, bahkan bagi angin untuk merubuhkanku dalam sekali tiupan.
Sepanjang
perjalanan, aku berpikir ulang tentang semua ini. Rasanya sungguh
tidak keruan, semuanya bercampur marut. Aku hisap kretekku lebih dalam hingga tak satupun kepulannya yang kubiarkan
berhembus keluar dari kerongkongan yang mendadak sulit menelan.
.......
“Siapa
yang kasih kabar?”, tanyaku
pada Ibu. “Pamanmu yang memberitahu.
Katanya sudah hampir sebulan lebih ayahmu di sini untuk berobat. Dia
menumpang di rumah tantemu”,
begitu jawabnya.
“Bagaimana
keadaannya? Seberapa parah?”,
tanyaku lagi.
“Kata
Pamanmu, sakitnya cukup mengkhawatirkan. Ditambah lagi sekarang
usianya yang sudah semakin tua”,
jawab Ibu. “Nanti malam Paman akan menjemput
kita untuk menemuinya. Sebaiknya kamu bersiap”,
tambahnya lagi.
Sepanjang
perjalanan Paman bertanya banyak hal, termasuk keadaanku dan adikku. Maklum, Paman terlalu sibuk mencari keberadaan ayah, sehingga banyak yang ia
lewatkan mengenai kami, keponakannya.
“Sudah
punya pacar?”,
tanya Paman pada adikku.
“Sudah
kok”, jawab adikku.
“Kalau
kamu? Kalau sudah merasa cocok, sebaiknya kamu langsung nikahi saja
biar Ibumu bisa segera menimang cucu”,
begitu pertanyaan Pamanku yang menurutku lebih mirip seperti
pernyataan atau nasihat.
“kalian
merokok?”, kali ini Paman
bertanya langsung pada kami, aku dan adikku.
“Iya”,
jawab adikku singkat.
“Yang
penting jangan lupa untuk jaga kesehatan, rajin-rajin olah raga,
jangan seperti Ayahmu. Sekarang fisiknya lemah sekali”,
kata Pamanku yang sekali lagi menurutku nasihatnya lebih mirip untuk
menarik empati kami kepada ayah.
Sepanjang
perjalanan, aku tidak banyak bicara. Perbincangan lebih banyak
dilakukan adik dan Ibu.
........
Hampir
pukul sembilan malam ketika kami tiba. Sungguh
pemandangan yang cukup aneh, mengingat kami disambut begitu hangat,
terutama Ibu. Kaca di mata-mata mereka hampir pecah ketika ia melihat adikku
yang menurutnya sulit untuk dikenali.
“Wah,
kalau ketemu di jalan pastinya sudah tidak bisa lagi mengenali kalian. Terutama kanu. Muka kamu benar-benar berubah”,
kata Om kepadaku.
“Tapi
kalau adikmu, Om masih mungkin mengenali karena wajahnya tidak
banyak berubah”, begitu
tambahnya.
Pastinya
mereka akan sangat mudah mengenaliku mengingat wajahku yang teramat
mirip dengan Ibu, sosok yang dulu mereka tidak senangi.
bersambung...

Komentar
Posting Komentar