19 Juli, Delapan Tahun Yang Lalu


“19 Juli 2008. Entah kenapa semenjak pertemuan terakhir kita, aku begitu membenci tanggal itu. Hari yang tidak pernah ingin kuingat, bahkan setengah berharap kalau hari itu tidak pernah ada –Hari dimana kamu membawa pergi sebagian mimpi yang sudah kita bagi bersama”.



What’s up, dude?. Kata-kata itu yang paling melekat dalam ingatan tiap kali aku mengingat dirimu, si pesakitan yang jenius. Aku berharap masa istirahat selama sebulan kemarin cukup memberimu waktu mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan, begitu yang kubaca di kitab dan buku-buku teologi tentang masa penangguhan –Sesuai saranmu sepulang mengunjungi tanah suci, agar sebisa mungkin untuk menyempatkan diri mempelajari lebih banyak ayat karena ada ribuan petunjuk di dalamnya. Lalu bagaimana dengan keadaanmu di sana? Aku yakin kamu selalu bisa bertahan, apapun situasi dan kondisinya.


Hampir delapan tahun, maaf jika aku belum sempat lagi berkunjung. Kamu tahu keadaan memang tidak pernah bisa kita duga, sekeras apapun kita mencoba, sebab kenyataannya kehidupan memiliki kehendaknya sendiri yang tidak bisa kita sangkal. Dan nyatanya memang persis seperti yang pernah kamu katakan dulu bahwa waktu akan merubah hampir segalanya, dan terbukti banyak yang berubah selepas pertemuan terakhir kita. Satu persatu perubahan itu muncul hingga memaksa kita untuk berpikir ulang tentang semuanya; Bahwa tidak semua mimpi itu harus diwujudkan. Tidak semua yang dipertemukan akan terus bersama. Tidak semua cerita berakhir menyenangkan –Seperti Kurt yang memilih mengakhiri hidup, dan membiarkan Courtney melanjutkan perjalanan dan membesarkan Francis sendirian.

Kamu tahu, dua-tiga tahun setelah hari itu, Rere sempat menghubungiku untuk sekedar menanyakan kabar. Ia baru saja berhenti bekerja karena kontrak kerjanya tidak diperpanjang dan dengan sangat terpaksa ia harus menjual gitar elektrik peninggalanmu untuk melunasi uang sekolah Galang. Ya, Galang sudah duduk di sekolah dasar saat itu, mungkin sekarang sudah bersiap memasuki jenjang sekolah menengah pertama. Untuk hal ini aku kembali meminta maaf karena itu adalah terakhir kalinya Rere menghubungiku. Ponsel lamaku hilang tanpa sempat menyimpan nomor telfonnya sehingga aku kehilangan kontak dengannya –Kamu memang tidak pernah salah pilih, Rere perempuan hebat. Dia membesarkan Galang sendirian tanpa campur tangan siapa pun, dan selalu melekatkan semua hal tentang dirimu dalam diri Galang. “Biar Galang gak lupa kalo dia itu juga punya Bapak. Jadi dia gak perlu ngerasa minder sama temen-temennya”.

Hampir 8 tahun, kawan, dan hari ini aku mengingat kembali masa-masa dulu, masa dimana kita menjadi gila bersama. Masa yang hingar bingar dimana kita merasa bebas untuk mendobrak aturan dan berperilaku seenaknya –Seperti gig’s perdana kita, beberapa shot Johnny Walker, on rock, dan kita mulai bertingkah layaknya Motley Crue. Seperti itulah Euphoria yang selalu terekam dalam tiap kebersamaan kita. Bebas menjadi diri sendiri dan tanpa kepura-puraan. “Lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri dari pada disukai karena menjadi orang lain”, begitu kata idolamu bukan?

Selepas kepergianmu, aku mencoba meneruskan mimpi-mimpi kita yang belum terwujud tapi kenyatannya sulit mewujudkan itu semua tanpa kehadiranmu di sini. Kami semua mulai hilang keyakinan di tengah semangat yang masih membara, yang bahkan mungkin sampai hari ini semangat itu masih ada, terutama dalam diri kami masing-masing. Apa itu berarti kami memang gagal? Entahlah. Mungkin serentetan kisah kejayaan di masa lalu ada benarnya; Kurt Cobain dan Nirvana, Shannon Hoe dan Blind Melon, Freddie Mercury dan Queen, mereka tidak pernah bisa menemukan sosok pengganti yang dapat meneruskan mimpi-mimpi mereka –Atau Mungkin memang apa yang telah kita mulai bersama hanya mampu berjalan sampai di sini dan menjadi cerita masa lalu yang kelak akan menjadi mimpi bagi anak cucu kita.


Waktu memang tidak pernah menghentikan langkahnya dan begitu juga kami, orang-orang yang telah kamu pilih untuk menjadi tempat berbagi mimpi. Orang-orang yang tidak pernah berhenti merapalmu dalam setiap doa. Kami di sini, masih akan terus mengenang dan mencintaimu tanpa pernah peduli tentang semua perihal pesakitanmu.

Dari aku, dan orang-orang yang akan terus menyebut namamu.


Tertanda,
Poor Boy Blues –Teman, sahabat, dan gitaris kesayanganmu


Komentar

Postingan Populer