Moralitas dan Pakaian

Bagi kebanyakan orang penampilan itu sangat penting, terutama tampilan luar karena katanya dari situ  kita dapat menentukan berapa banyak nilai plus yang bisa diberikan kepada orang yang sedang kita nilai tersebut. Penilaiannya pun sangat subyektif karena didasari oleh selera pasar yang cenderung bersubstansi pada material. Misalnya saja cara berpakaian. Kebanyakan dari kita cenderung lebih suka menilai seseorang dari cara berpakaiannya –Yang pastinya sudah menjadi sesuatu yang klise, “orang baik-baik” berpakaian rapih dan “yang bukan orang baik-baik” berpakaian ala kadarnya (atau terkesan seenaknya). 

Ini semua menjadi sebuah aturan normatif yang baku sehingga banyak orang lebih sering memilih pakaian berdasarkan penilaian lingkungan sekitarnya, dimana ukuran pantas atau tidaknya penampilan seseorang ditentukan oleh orang lain yang berada di dalam lingkaran sosialnya.

Jika dilihat dari kondisi seperti ini maka sudah dipastikan kalau saya ini termasuk “yang bukan orang baik-baik”. Kalau dibandingkan dengan orang-orang di lingkaran sosial dimana saya berada, sepertinya saya termasuk orang yang lebih suka menggunakan pakaian yang ala kadarnya. Saya bukan orang yang pandai dalam memilah-milah gaya dan cara berbusana. Saya lebih suka memakai pakaian yang menurut saya nyaman untuk digunakan karena dengan begitu saya merasa lebih percaya dengan diri saya sendiri.


Lalu apa hubungannya dengan moral? Kalau dianalogikan kurang lebih seperti ini, “Saat ini (atau mungkin juga sudah sejak lama) kebanyakan orang lebih peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya sendiri. Kebanyakan orang lebih suka mengikuti apa yang menurut orang lain benar atau baik, tanpa melihatnya lebih seksama apakah hal tersebut juga sejalan dengan apa yang dikatakan hati nuraninya”.     

Buat saya akan sangat melelahkan jika harus berpura-pura menjadi seseorang yang disukai, yang padahal itu bukanlah diri kita yang sebenarnya. Bukankah itu sama saja dengan menipu? Menipu orang lain dan juga diri sendiri? Lagipula sebegitu memalukankah tampilan kita jika dibandingkan dengan orang lain?

I’d rather be hated for who I am, than loved for who I am not”, begitu kata mendiang Kurt Cobain, dan saya setuju dengan apa yang beliau yakini itu –Terlepas banyak orang bilang kalau dia itu gila, tapi setidaknya Kurt tidak berpura-pura menjadi orang waras.

Karena bagaimanapun kebanggaan itu sejatinya dimulai dari diri sendiri, begitu yang saya tahu.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer