Surat Cinta Amniotik
2015-12-09 21:54 GMT+07:00 sabrina saby<sabrina.syahadat@gmail.com>:
Boni,
Aku tahu kau baik-baik saja. Maka, aku tak menanyakan kabarmu. Aku tak ingin berbasa-basi. Aku merindukanmu. Aku merindukan malam-malam penuh cacian di antara botol-botol bir kosong yang selalu terganti dengan botol-botol bir yang baru. Aku merindukanmu. Aku menangis setiap mengingat bagaimana abu rokok kretek kita bertebaran di atas meja bar. Aku merindukanmu. Aku menangis setiap kali aku memesan satu shot tequila tanpamu.
Boni,
Aku ingin menyanyikan lagu kesukaan kita. Aku ingin menyanyikannya keras-keras. Karena, aku merindukanmu. Aku merindukanmu dan terus-menerus bertanya pada diriku sendiri, apakah kau merindukanku juga.
Boni,
Aku merindukanmu.
On Dec 10, 2015 6:51 PM, "noval suryanata"<novalsaraceno@gmail.com>wrote:
Dear Andin,
Maaf, jika belakangan ini kita hampir tidak pernah bertukar kabar dan cerita. Begitu pun diriku yang tak pandai berbasa-basi. Aku pun merindukan hal yang sama. Aku rindu celotehmu yang apa adanya. Aku rindu dirimu yang meracau dan mengumpat di antara aroma wishkey dan tequila di atas meja. "Gadis kecil kesayanganku ini sudah dewasa", begitu genangku dalam hati.
Andin,
Kelak akan ada seseorang tangguh yang akan menjadi lawan terbaikmu dan menjadikan hidupmu bahagia –Mungkin ia yang kini ada di sampingmu, atau yang tengah berjuang untuk bisa berada di sampingmu. Namun yang pasti, jangan pernah lengah. Perempuan tetap perempuan, begitu pun laki-laki.
Jaga dirimu sebaik yang kamu bisa, adik kecilku. Lagu ini akan terus menemani, apa pun yang terjadi.
Andin,
Aku menyayangimu.
2015-12-10 20:13 GMT+07:00 sabrina saby<sabrina.syahadat@gmail.com>:
Boni,
Beberapa hari yang lalu, aku berbincang-bincang dengan beberapa orang teman baru. Entah bagaimana awalnya, seorang dari mereka menanyakan umurku. Aku menyebut angka dan tiba-tiba saja menyadari bahwa dalam beberapa bulan, aku sudah tiga puluh.
Boni,
Aku bahagia sekali karena aku tak seperti perempuan kebanyakan, yang menjadikan angka tiga puluh sebagai momok yang menakutkan. Bagiku ini seperti dunia yang lain, yang sudah kutunggu dan aku sangatlah siap memasukinya. Aku mengalami euforia yang sama seperti yang kualami saat aku beranjak dua puluh satu.
Anyway, Boni,
Ketika aku menyadari bahwa sebentar lagi aku berusia tiga puluh, hal yang kemudian terbesit dalam pikiranku adalah kau sekarang tiga puluh satu. Aku malah lupa berapa umurmu saat aku mengirim ucapan selamat ulang tahun kepadamu beberapa minggu lalu.
Boni,
Sebelumnya, aku ingin kau tahu, apa yang akan kusampaikan setelah ini bukanlah nasehat semacam yang orangtua kita lakukan. Ini hanya pikiranku.
Boni abangku tersayang,
Mungkin ini sudah pernah kusampaikan. Tetapi, aku tak ingin kau berhenti mengingat ini. Aku selalu percaya bahwa ada seseorang yang tepat untuk aku, untukmu, untuk kita masing-masing. Seseorang yang kuinginkan dan menginginkanku. Seseorang yang seperti kau bilang, sedang berusaha untuk ada di samping kita, karena dialah seorang yang tepat itu.
Boni,
Di balik kesendirianku, aku menyimpan doa untuk orangtua kita, keluarga kita, teman-teman kita. Dan aku berdoa untuk seseorang yang mungkin belum kutahu namanya agar aku dan dia dipersatukan. Seseorang yang di sela waktunya juga berdoa dengan isi yang sama.
Boni abangku yang tak hentinya kurindukan,
Kadang aku memikirkan bagaimana kita saling selalu tahu apa yang dibutuhkan satu sama lain. Kemudian menyadari bahwa memang kita terlalu banyak berbincang walaupun tak hanya lewat kata-kata. Itu juga mengapa adik kecilmu yang manja ini setengah mati berusaha membiasakan dirinya berbagi asap ganja hanya dengan dinding kamar kos. Tinggiku sunyi tanpamu.
Ah Boni! Aku rindu kau sekali.
On Dec 11, 2015 5:29 PM, "noval suryanata"<novalsaraceno@gmail.com>wrote:
Andin,
Senang mendengarnya, bahwa nyatanya kau tetap mendapatkan teman baru. Kehidupan baru, yang tentu tanpa pernah menggantikan yang lama. Setidaknya diriku merasa tenang karena dirimu tidak sendirian di tanah seberang.
Andin,
Kata orang, umur hanyalah angka. Mungkin mereka benar, mungkin juga salah. Namun aku lebih suka dengan perumpamaanmu, "sebuah dunia yang lain". Sebab memang tidaklah semenakutkan apa yang mereka katakan. Percayalah, aku pernah melewatinya.
Andin, adik kecilku yang manja,
Saat ini dirimu telah melihat dan mengalami banyak hal dalam kehidupanmu, mulai dari yang menyakitkan sampai dengan yang membahagiakan. Namun apa pun yang terjadi, jangan pernah larut dalam penyesalan karena apa pun yang berlaku kini atau nanti adalah "bagian" yang harus kau ambil. Kelak ketika tiba waktunya "bagian"mu itu datang, terimalah dengan lapang, sebab pada akhirnya hanya dirimu yang menentukan bagaimana kau ingin menelan "bagian"mu ini, dengan rasa yang manis atau pahit.
Andin, adikku tersayang,
Waktu dan keadaan telah mengajarkan banyak hal kepadaku, dan aku tak pernah berhenti bersyukur karena aku tidak sendirian melewatinya. Ada dirimu yang menemaniku saat berada di titik terendah –Yang tidak akan membiarkan lintingan ganjaku habis terbakar begitu saja.
2015-12-11 22:59 GMT+07:00 sabrina saby<sabrina.syahadat@gmail.com>:
Boni sayang,
Aku kadang tidak percaya bahwa aku memang memiliki manusia semanis kau, bahkan bisa mengecewakanku dengan manis. Hahaha.
Boni sayang,
Aku ingin kau percaya dan tetap mengingat bahwa apapun 'bagian'ku itu, manis maupun pahit, aku akan mengambil itu dengan rasa syukur. Aku ingin kau juga begitu. Nikmatilah, jangan kufur.
Boni abangku yang manis,
Aku sekarang sedang menangis. Membaca suratmu membuatku semakin rindu kau. Aku rindu rumah. Aku rindu menertawakanmu saat kau jatuh cinta dan aku rindu ditertawakan olehmu saat aku merindukan seseorang.
Boni, my only one Boni,
Terima kasih karena masih mau menjadi orang yang bisa kuandalkan. Aku beruntung sekali!
Pelukrindupalingerat!
On Dec 15, 2015 8:01 PM, "noval suryanata"<novalsaraceno@gmail.com>wrote:
Andin,
Begitu pun diriku, tak pernah berhenti mengucap syukur karena dipertemukan dengan perempuan hebat (dan penuh "racun”) seperti dirimu. Hehehe.
Andin, adikku,
Meski sulit namun Aku berjanji untuk membuang segala kekufuran. Mencoba menerima semua yang tersaji di depan kita, semanis atau sepahit apapun itu.
Andin, adikku yang manis,
Rinduku semakin menguat ketika pertama kali suratmu muncul di kotak pesanku. Aku rindu mendengar celotehmu yang "sok tahu", apalagi ketika hidupku penuh dengan masalah. Namun untuk yang satu ini harus kuakui bahwa kamu memang selalu "tahu" semua yang berkecamuk di dalam pikiranku.
Andin-ku yang tersayang,
Semoga waktu akan segera memulihkan apa yang telah kita lewatkan. Semoga waktu membayar lunas hutang rindu seorang kakak kepada adiknya.
Andin-ku yang tercinta,
Aku tahu tidak mudah untuk berada disampingku, dan untuk itu aku berterima kasih atas segala daya yang kamu punya untuk selalu ada dan tidak pernah pergi dari sisiku.
*Peluk erat dari abangmu yang sedang dilanda rindu
2015-12-15 22:49 GMT+07:00 sabrina saby<sabrina.syahadat@gmail.com>:
Boni sayangku!
Kau masih mendoakanku kah? Boleh aku titip satu doa?
Balas segera.
~Adikmu yang sok tahu.
On Dec 16, 2015 10:23 AM, "noval suryanata"<novalsaraceno@gmail.com>wrote:
Andin, adikku tersayang,
Selalu. Sebutkan doamu?
Maaf terlambat membalas.
~Abangmu yang manis :)
2015-12-16 12:06 GMT+07:00 sabrina saby<sabrina.syahadat@gmail.com>:
Boni abangku sayang,
Aku titip doa agar aku segera bisa memelukmu, menatap matamu, merangkul bahumu, dan berbincang denganmu tanpa tahu waktu.
Karena, Boni, rinduku telah lama meluap-luap dan aku tak bisa membendungnya lagi.
On Dec 16, 2015 19:02 PM, "noval suryanata"<novalsaraceno@gmail.com>wrote:
Andin, adikku sayang,
Semoga rindu ini segera terbalaskan. Mari kita amini, dan biarkan semesta bekerja dengan cara yang tak terduga.
~Bonny
"Saling percaya dan mengagumi. Saling melihat dan mendengar. Saling mencintai dan merasakan. Begitulah cinta amniotik. Karena cinta seorang kakak laki-laki adalah harta karun terbesar bagi adik perempuannya, dan begitupun sebaliknya"
*Akhir tahun 2015, Bali - Jakarta.
Ketika kami harus menikmati riuh kembang api & terompet tahun baru dari tempat berbeda


Komentar
Posting Komentar