Akar Yang Berkarat

Akar yang berkarat hingga sekarat di tengah ilalang tanpa sekat
tak seperti halusnya semburat, meranggas di kedalaman yang pekat
namun tetap mekar dan berbuah tanpa dirawat,
hingga karat yang melekat pada sekat kawat pun tak mampu
membuat akar itu gugur menjadi mayat
dan percayalah pada apa yang tak sempat terucap,
sebab tiap serabut serta seratnya terus terikat erat

Hahahaha… tertawalah,
apa yang pernah terlewat secara tersirat maupun tersurat
karena tak sesuai dengan akal sehat
Maka kita saling masuk melesak, memeluk mengisak-isak
hingga hembusannya tak lagi tersesak
Hingga menyatu dan melebur dalam senggama panduan ilahi
yang membawa panas pada suatu keteduhan,
kegelapan pada suatu penerangan
pun kalian dan mereka, yang terus berusaha mencari jalan.
Meski sesekali harus bercumbu dengan bayangan, atau setubuhi harapan

Lalu untuk kesekian kalinya kita bergurau di tepian sabit rembulan.
Dan kita kian berhasrat, saling bercinta di sepanjang sepertiga malam
hingga tersesat pada pada kegelapan dan kesunyian
yang menjelma dalam sebuah kata kepastian
Tak terasa pagi menjelang, bersama hangatnya sinar mentari
yang mencuat perlahan
Seolah terbebas dari persembunyian
masih teringat pergumulan semalam,
meski kicauan anak-anak burung yang meminta makan terus bersautan
Perlahan semua tampak jelas dari ufuk,
membangunkan aku, kamu, dia, mereka, dan kita semua
seperti layaknya sekumpulan yang bersayap
menantikan senandung-Nya dari tepi samudera




Jakarta, 6 Mei 2011
* seperti yang tertulis oleh Andi Bhawika & Noval Suryanata di status Edomange Sinaga, 1 May 2011, 05 : 51 pm,‘akar yang berkarat’


Komentar

Postingan Populer