Di Ujung Lensamu

Kau adalah aku. Mereka. Kita semua. Hari ini, aku mengurutkan coretan dinding kita kemarin dulu. Suatu dunia yang tak ternilai oleh penjumlahan angka. Tepat ketika waktu berjalan mundur secara perlahan, seperti potongan rol film berwarna kecoklatan yang berbicara tentang rentetan sejarah dan kenangan. Kutemukan lagi guratan wajahmu yang tersenyum padaku. Kau terlihat menikmati kesenangan yang terjadi diantara aku, mereka dan kita semua.

Aku masih dapat mendengar dengan jelas, tawamu yang lepas, bebas. Juga harunya cinta yang begitu liar telah merasuki masing-masing dari kita, tanpa terkecuali. Kita selalu ada. Di lorong-lorong tangga. Di ujung langit yang memerah saga, tempat biasa kita saling menikmati satu sama lain lewat sebungkus kecil kanabis, juga dua gelas kafein. Kita mabuk dunia, persahabatan dan cinta dan kita duduk berdampingan, di bawah langit senja yang temaram. Hari berganti. Bulan terlewat. Tahun berlalu. Dan kau menghilang diantara derap langkah kita yang melaju.

Apa yang terlewatkan olehku?, bukankah kita berjanji untuk hidup dan mati bersama?. Lalu kau berlalu begitu cepat tanpa menyisakan jejak sedikit pun untukku.

Kau memiliki takdirku. Mereka dan kita semua. Tapi sayangnya, kau seperti enggan melihat kami, gambar-gambar yang terekam di ujung lensamu yang hampir usang. Kami sering menunggumu datang menjumpai kami, gambar-gambar yang tersimpan di dalam album masa lalumu. Masa lalu yang mungkin menyakitimu, namun selalu menyisakan pijakan yang lapang bagimu.

Tahukah kau, bahwa aku marah padamu? kalau aku kecewa padamu? bukan karena kesilapan ataupun kekeliruan yang mendendam. Aku menyumpahimu karena kau tak kunjung datang menemani cangkir kopi hitamku yang mulai dingin. Sebab kau selalu menghilang saat aku butuh seseorang yang dulu selalu menjadi tempatku berbagi kretek terakhirku. Dimanakah kau saat aku membutuhkanmu?

Tapi aku sadar, ini hanyalah ke-egoisanku yang memalukan. Hanya karena merasa memilikimu, maka aku terlarut dalam kesepianmu. Ya, kesepian. Itu yang selalu menjadi sahabat terbaik ketika kita saling memikirkan. Dari sini, aku tahu kalau kau juga masih memutar sejarah yang tersimpan di ujung lensamu.

Jangan berpaling, aku tahu kau pun tak menginginkan itu. Kau tetap bagian dari aku, kami, dan kita semua. Apa yang terlewat takkan merubah apapun. Percayalah, segalanya akan baik-baik saja. Seperti dulu, sebatang nikotin, secangkir kafein. Kau tetaplah dirimu dan kami akan selalu menjadi satu. Karena kami bukanlah sahabatmu, musuhmu, kawanmu, ataupun lawanmu. Kami adalah segelintir isak tangis dan derai tawa yang mengalir deras tiap kali kau nyalakan kilatan cahaya dari ujung lensa kesayanganmu.
          





-->
Jakarta, 31 Januari 2011. 20:00 pm
*untuk Alm. Reza “Koben” Febriyal, Marcelian ”geng” Liefy, Aditya ”bandith” Bernardi, Amarildo ”coti” Tobing,… I'm really miss you guys…


Komentar

Postingan Populer