Dialog Masa Datang
Aku
telah tertidur dalam logikaku. Tak panjang, tetapi begitu lelap. Ada
yang memaksaku untuk begitu: sebuah kumpulan suara dari masa laluku.
Aku lupa pada realita. Dan kini aku terbangun oleh gagasanmu yang
kurasa terlalu dini untuk kudengar. Bisakah kau menunggu sebentar
lagi?
Apa
masih perlu kujawab keinginanmu yang satu ini? Mungkin akan terdengar
mengada-ada, jika kukatakan bahwa sampai saat ini, menunggumu adalah
hal yang paling realistis dalam hidupku. Aku yakin, kamu
mengetahuinya dengan sangat jelas. Iya. Aku melihat lelapmu yang
panjang. Tapi bukankah pernah kukatakan padamu, sesuatu yang
membahagiakanmu? Sekarang, besok, juga nanti.
Dan
sampailah aku di sini, di antara kebimbangan dan ketakutan akan
ketidakbahagiaan yang mungkin telah menipu kita berdua. Aku
terperangkap dalam khayalan dan mimpi-mimpi indah yang kini
menjadikanmu takut luar biasa. Apa kamu masih bisa mendengar suaraku
yang berteriak lantang tiap kali aku memaksaNya menuliskan perihal
kebahagiaan atas dirimu?
Betulkah
kau mau menunggu? Mungkin akan beberapa lama lagi, karena aku sedang
berusaha menyadarkan diriku dari buaian logikaku yang mungkin terlalu
muluk. Aku juga sedang berusaha melepaskan diri dari bualan traumaku.
Kini tak ada lagi alasan untukku kembali ke titik nol, ke keadaan
seimbang, karena mimpi indahmu telah menarik sebelah tanganku. Aku
ingin mengatakan bahwa ini paksaan, tetapi aku tau betul bahwa ini
hanyalah nampak seperti pemaksaan.
Aku
tidak mendengar teriakanmu kepadaNya. Namun, Dia telah memberitahukan
aku perihal itu lewat hatiku, lewat perasaan yang tidak aku inginkan.
Perlu kau ketahui bahwa aku tidaklah takut, aku hanya ingin kau
bersabar. Ah, ataukah aku memang takut tanpa kusadari? Atau aku
takut, tapi aku tidak mau mengakui?
Aku
yakin betul akan perasaanmu. Aku tidak sedang menarik sebelah
tanganmu, aku hanya tengah berusaha meyakinkanmu bahwa kau bisa
memelukku dengan mudah. Sebab tanganmu kelak tidak akan pernah
menyakitiku, seperti apa yang kau yakini selama ini. Mungkin ini
semua datang terlalu mendadak tapi aku tak mampu melawan kehendak.
Semua akan indah pada waktunya, namun maaf, aku tak bisa menguasai
waktu.
Apa
kamu tahu, semalaman sudah aku menangis. Aku mengisak lirih ketika
aku melihatmu duduk sendirian. Merintih dalam diam. Dan kau
melarangku untuk mendekat, sekedar menemani kedukaanmu. Menjadi
satu-satunya sandaran terdekat bagimu ketika segala sesuatunya
semakin terasa berat. Mengapa kau meminta sebuah permintaan yang tak
mungkin kusanggupi seumur hidupku?
Apakah
kau berpikir bahwa sekarang, setelah aku tak lagi mampu menguatkan
diriku sendiri, aku akan tetap mau memelukmu? Kau tau, kau sudah
membuatku menjadi begitu lemah. Aku ingin berpikir, tetapi tak ada
apapun di dalam otakku. Kosong. Dan pijakanku sedang goyah ketika kau
mendengar aku menertawai pertanyaanmu tentang langkah kita setelah
ini. Taukah kau, pertanyaanmu itu sangat kutunggu? Tetapi saat aku
telah mendapatkannya, duniaku menjadi hampa suara, hampa bunyi-bunyi.
Aku tidak bisa mendengar apapun. Aku jadi tuli.
Tahukah
kamu bahwa apa yang yang terjadi diantara kita adalah nyata? Aku
yakin kamu mengerti maksudku ini. Tapi bagaimana jika seandainya
ketakutanmu ini telah memberikanku kekuatan yang aneh sehingga aku
mampu kembali berdiri tegak? Bagaimana kalau ternyata kehendak
menghadirkanku tepat di hadapanmu agar kamu menjadi layak? Agar kamu
merasakan kebahagiaan yang dulu pernah dirampas darimu?
Khayalanmu
tidaklah terlalu muluk bagiku sebab aku datang dengan cara yang
sangat sederhana dan aku tahu kamu mencintai caraku ini. Tahukah kamu
bahwa aku telah tersakiti melihat kebahagiaan telah membuatmu
berkorban sedemikian banyak? Namun sekali lagi, kumemohon maaf jika
ini begitu berlebihan bagimu. Sebab aku tak ingin menuntut apapun
darimu, selain keyakinanmu padaku yang mencoba melakukan yang terbaik
untukmu, aku. Kita...
Berhentilah
sejenak membicarakan kenyataan! Dan bantulah aku mengumpulkan
kekuatanku yang pecah berserakan. Agar aku kembali bisa duduk berdua
denganmu membicarakan apapun yang kau mau. Agar tenagaku cukup untuk
menghadapi kenyataan apapun yang ingin Dia suguhkan kepada kita. Agar
segenap diriku, nyawaku, hidupku, mampu menjadi wanita yang pertama
kali kau lihat saat kau terbangun di pagi hari seumur hidupmu kelak.
Jangan
takut, aku selalu disini. Bukankah pernah kukatakan padamu, "Ketika
segala sesuatunya mulai terasa berat, kamu tahu dimana harus
mencariku.." dan aku rasa kamu tahu, bahwa kamu tidak perlu
mencariku kemana-mana sebab aku tidak pernah beranjak darimu. Aku
selalu yakin, Ia sedang tidak bermain-main dengan membawaku berjalan
sejauh ini jika pada akhirnya kelak aku akan Ia tinggalkan begitu
saja. Tapi aku menghargai semua tentang dirimu. Aku tidak mau
mengikatmu kencang, karena kuyakin kita telah saling terikat erat.
Meski kamu tak ingin, tapi aku selalu berusaha untukmu. Memelas di
kakiNya agar kamu menjadi layak di tiap saat seumur hidupku kelak.
Dengan begitu, kebahagiaanmu kian sempurna.
Terima
kasih. Dan akupun akan mencariNya di manapun Dia sembunyi kini untuk
meminta agar mimpi-mimpi indahmu menjadi nyata dan kian nyata sampai
sempurna.
Jakarta,
6 Febuari 2011. 16:39pm
me
with my Sister, Sabrina Saby


Komentar
Posting Komentar