Pelatuk Terakhir
Seperti
janjiku, tepat jam dua belas malam kita bertemu di persimpangan jalan
ini. Tepat tengah malam ini aku berjanji akan mencuri waktu untuk
menjumpaimu di sudut jalan verboden
ini. Aku terduduk resah menunggumu di bawah sinar lampu kota yang
temaram sambil menghirup dinginnya angin malam bercampur dengan
kepulan asap lembab dari kretek terakhir yang ku bakar ini.
Dalam
penantian panjang aku sempat berbicara dengan Dzat Yang Maha
Tahu, mempertanyakan perihal dirimu yang tak kunjung datang. Aku
memohon sebuah perlindungan untuk diriku yang telah merampas
kemurnian cinta mereka atas dirimu. Sejam telah berlalu dan dalam
doaku, kau segera muncul dari seberang jalan, melambaikan kerinduan
yang sudah sedemikian sulit untuk kuredam, namun hanya suara dentuman
waktu yang terus memburu dan kehadiranmu dalam sebuah pesan pendek
yang menyakitkan.
“sayangku,
maafkan aku…mulai mlm ini aku tdk bs lg menemuimu..mungkin
sebaiknya memang kt tdk usah melanjutkan ini semua..aku mhn
pengertianmu, sulit bagiku utk menolak takdir ini tapi aku mhn kau bs
mengerti..aku tdk ingin mengecewakan kedua org tuaku dan menyakiti
hati perempuan itu,.. perempuan yang tak akan pernah bs kucintai. aku
mhn maaf sayangku..mgkn bnr kt orng, cinta tak hrs memiliki tapi
percayalah, smp kpn pun aku tdk akan melupakanmu..sekali lg maafkan
aku sayangku..aku selalu mencintaimu..”
Aku
terdiam sesaat.., mendadak semuanya menjadi kosong, segalanya mulai
samar-samar, perlahan segalanya menjadi gelap dan seketika bayanganmu
lenyap.
Suara
Adzan subuh memecah keheningan dan aku tersadar dalam pikiran yang
kacau. Aku berlari pulang, jalan pikiranku kian buntu dan aku patah
arang, seisi dadaku dipenuhi oleh kekecewaan dan rasa sakit yang
meradang. Aku tidak mampu menerima semua ini, rasa sakitku semakin
tak tertahankan dan tanduk-tanduk setan mulai merasuk hingga ke dalam
sendi-sendi hatiku yang membeku.
.......
Sesuai
janjiku, tepat jam dua belas malam kita akan bertemu di malam
pertamamu. Tepat tengah malam ini aku berjanji akan mencuri waktu
untuk menjemputmu di sudut rumah ini. Aku mengendap resah menunggumu
di bawah sinar lampu teras yang temaram sambil menghirup dinginnya
aroma melati bercampur dengan kepulan asap hambar dari kretek
terakhir yang aku bakar ini.
Selepas
penantian panjang ini aku sempat berbicara dengan Dzat Yang Maha
Pengampun, mempertanyakan perihal dirimu yang meninggalkanku. Aku
memohon ampunan atas diriku yang akan merampas kemurnian cinta mereka
atas dirimu.
Sejam
telah berlalu dan aku segera mendobrak pintu teras kamar pengantinmu,
melepaskan kerinduan yang sudah sangat sulit kuredam lewat beberapa
butir peluru yang bersarang di dadamu, suara dentuman waktu melebur
bersama teriakan istrimu serta isak tangis seluruh keluarga besarmu
yang berlarian menghampiri jasadmu yang sudah terbujur kaku. Aku
menghampiri perempuan yang baru pagi tadi kau nikahi, perempuan yang
telah mencuri hatiku..,
“maafkan
aku..mulai malam ini ia tidak bisa lagi menemanimu..aku rasa kau
tahu, sulit baginya untuk menolak takdir ini karena ia tidak ingin
mengecewakan kedua orang tuanya, aku mohon maaf..bagiku, mencintai
berarti memilikinya secara utuh jadi jika aku tidak bisa memilikinya
maka tidak ada satu orang pun juga yang bisa memilikinya, sekalipun
dirimu..sekali lagi maafkan aku..aku selalu mencintainya..”
Dan
kemudian aku mendekati jasadmu sambil menangis bahagia, membisikan
kata-kata penuh cinta di telingamu, ”akhirnya kita dapat
bersama...”. Selepas itu aku tarik pelatuk terakhirku
dan butir-butir peluru yang masih tersisa segera mengantarku
terjerembab jatuh tepat dalam pelukan jasadmu yang berlumuran darah.
*
Jakarta, 10 November 2010. Pukul satu dini hari

Komentar
Posting Komentar