Yang Tercinta
Lama
sudah kita tak saling bicara. Dua, tiga, empat mata. Hampir tiga
belas tahun sudah, satu sama lain saling mengasingi dan menjauhi oleh
karena pertengkaran kita hari itu belumlah usai. Aku mengumpulkan
sisa-sisa dirimu dan menyimpannya rapat-rapat dalam hatiku
sebagaimana dirimu yang membiarkan kekecewaan atas diriku terbang
bebas dalam ingatanmu.
Aku
berkaca sedang kau bercermin. Maka kita tampak kesamaan yang tak
serupa. Kau adalah aku, seperti aku yang menyerupaimu dalam sebentuk
lain dari ikatan semu. Semua hal yang berlaku diantara kita merupakan
pusaran semata, ibarat dunia yang maya. Seperti sebuah karam yang
siap menenggelamkan salah satu dari kita.
kau
memutuskan yang tak mungkin terputus. Kau meninggalkan yang
seharusnya kau bawa. Dan aku menelannya mentah-mentah ke dalam
kerongkonganku yang meradang perih dan kesakitan. Mungkin masih
mengiang di dirimu tiap kali kita saling acuh dan sekejap menjadi
sinis lewat tatapan-tatapan yang tajam dan menusuk salah satu dari
kita, melukai hingga darah membanjiri kepedihanku atas dirimu.
Aku
hanyalah karya yang agung sedang kaulah sejatinya seniman. Aku cuma
segelintir kaedah dan kaulah sang ahli kalam. Dan kemudian
kita saling menyalahkan, memaki, juga mencaci sampai saatnya kita
saling menghancurkan satu sama lain. Bumi adalah tempatku menangis,
sedang lautan mengumpulkan air mata, dan diantaranya kujumpai dirimu
bergemuruh dari atas langit hendak membunuh matahari secara perlahan.
Kau
yang tercinta dan aku yang terluka. Kita adalah persinggungan yang
tak berujung meski terkadang, ingin kurengkuh sebagian dirimu dalam
lelapku yang terjaga hingga kini dan membiarkan dirimu memiliki
setengah dari kebajikan yang berlaku atas diriku. Lalu kita
bertengkar hebat dalam ruang bersekat kaca, dimana kita saling
memandang penuh amarah yang liar dengan kerinduan yang teramat
sangat. Dengan begitu, kita dapat saling menyiksa satu sama lain
walau sebenarnya, di kedalaman hati, kita masih saling mencintai.
Jakarta,
9 januari 2011. 02:30 WIB
*Untuk
yang tercinta, papa….
terima
kasih telah mengajarkan bahwa terkadang cinta bisa menjadi sangat
menyakitkan


Komentar
Posting Komentar