Apa Kabar, Nduk?
Apa
kabar, Nduk?
Hampir
berjuta cahaya lamanya kita tidak saling bicara, aku harap kamu masih
seperti dulu. Ya, seperti dulu, si cantik yang pemalu beserta warna
pelangi.
.....
Masih
seperti dulu, sore di beranda depan. Secangkir caffeine kental
dan aku yang menunggu hujan. Aku yakin kamu masih mengingatnya,
sekalipun kamu berusaha untuk melupakannya, aku mengerti. Kamu tau,
kadang aku pikir juga demikian. Mungkin sulit untuk melupakannya tapi
ada baiknya kalau kita berusaha untuk tidak mengingatnya.
Tapi
entah kenapa, langit sore ini membawa ingatanku pada kamu. Ya, kamu,
orang asing yang diam-diam bersembunyi di rongga kepalaku.
Sore ini aku terhempas dan berhenti pada pertengahan malam tepat
ketika aku mengunjungimu melalui pesan singkat di telepon pintarmu.
Kamu tau, malam itu kamu berhasil membuat irama denyutku berdegub tak
beraturan dan juga isi kepalaku yang mendadak menjadi bubur. Dan kamu
tau, malam itu kamu menang telak,
“Aku
pikir, aku ini adalah macan. Ternyata aku cuma anak kucing yang
berlagak seperti macan”.
Lalu
perjumpaan kita di malam-malam berikutnya. Kencan pertama kita,
restoran junk food dan sekali lagi kamu berhasil membuatku
menahan hasrat untuk sebatang nicotine selama hampir tiga jam.
Ya, kamu memang orang asing yang hebat.
Atau
saat kencan kita ke bioskop gagal dan berakhir dengan makan malam,
semangkuk bubur ayam, sepiring roti bakar di seberang kali yang
malang.
Ya,
semua memang tak pernah terencana dan hanya bisa mengalir apa adanya
sehingga kenangan menyadarkan kita pada sebuah tembok kaca besar yang
nyaris tembus pandang sehingga bendungan di matamu tumpah seketika.
Tepat beberapa waktu selepas aku menebus kencan kita yang gagal dan
aku tak pernah mengira kalau malam itu adalah terakhir kalinya bibir
kita bertemu mesra.
....
Apa
kabarmu, Nduk?
Akhirnya
sore ini hujan turun setelah hampir berjuta cahaya. Aku harap masih
seperti dulu, si cantik yang pemalu meski tanpa warna pelangi

Komentar
Posting Komentar