Surat Cinta Untuk Ibu

Hari ini umur Ibu bertambah dan ini adalah bagian yang paling sulit kuterima karena itu berarti, waktu hidupnya berkurang sehari.”
......

Selamat hari lahir Ibu,

Maaf Bu, kalau aku harus menulisnya lewat surat ini. Seperti yang pernah Ibu bilang, “Jika sulit untuk mengatakannya langsung, katakan saja lewat tulisan.”

Tidak terasa sudah lebih dari setengah abad usia Ibu dan sejujurnya belum pernah aku melihatmu setua hari ini. Semalam aku mengamati Ibu yang tertidur pulas. Aku perhatikan beberapa helai rambut yang memutih di kepala Ibu serta kerutan yang tampak jelas di wajah Ibu, mengguratkan perjalanan panjang yang tersenyum letih.

Dua puluh tujuh tahun berlalu dalam hidupku dan Ibu selalu ada tepat di sampingku. Aku pernah, bahkan sering mendapati Ibu menangis sendirian di meja makan. Aku berjalan mendekat dan Ibu menatapku tersenyum,

“Terkadang menangis adalah pijakan paling dekat ketika kita kehilangan keseimbangan. Jangan takut untuk menangis sebab dengan menangis berarti kita masih punya hati. Sering kita lupa untuk mendengarkan kata hati dan sekarang Ibu menangis bukan hanya karena Ibu perempuan yang cengeng tapi karena saat ini, Ibu sedang mencoba mendengarkan apa kata hati Ibu. Ibu tahu saat ini adalah saat-saat terberat dalam hidupmu dan Ibu sangat memohon maaf atas semua yang terjadi ini. Maafkan Ibu yang tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kamu dan kedua saudaramu. Yang jelas, apapun itu, Ibu selalu menyayangi kalian semua dan Ibu bersumpah untuk itu.”

Ibu tahu, kata-kata itu sungguh terngiang dalam ingatanku. Ibu telah memberi banyak namun hanya meminta sedikit dariku. Juga nasihatmu agar aku membuang rasa gengsi untuk sekedar menadahkan tangan dan mengucap syukur serta memohon pengampunan demi keselamatanku di akhir zaman.

Dan Ibu harus tahu bahwa dirimu selalu berada di urutan pertama dalam setiap doaku. Bahwa Ibu adalah alasan mengapa aku harus menjadi sesuatu dalam hidup ini. Bahwa Ibu adalah satu-satunya hal terbaik dalam hidupku.

Selamat hari lahir Bu. Aku teramat beruntung pernah berada dalam rahimmu sembilan bulan lamanya. Terima kasih untuk semua hal yang Ibu lakukan untukku. Aku mencintai dan menyanyangimu.


Jakarta, 5 Desember 2012,

Anakmu






Komentar

Postingan Populer