tentang Ibu (1)
Kini
rambut putihnya semakin subur, juga kerut-kerut halus yang tampak
menggurat tegas di wajahnya. Tubuhnya yang letih bersembunyi di balik
langkah kakinya yang cepat. Dalam diam, ia menyimpan rindu.
Mengambang hening tiap kali matanya menggenang.
.....
Ini
adalah cerita tentang Ibuku. Wanita pertama yang aku kenal sepanjang
hidupku. Wanita pertama yang mencintaiku melebihi dirinya sendiri.
Wanita pertama yang mengajariku mengucapkan “ma..., pa... “.
Tak
banyak yang bisa ia ceritakan tentang kisah masa lalunya selain
kebanggaannya sebagai satu-satuya anak perempuan di keluarganya yang
punya gelar diploma di bidang keperawatan. Menurut pengakuannya, tak
banyak kesempatan yang bisa didapatkan seorang anak gadis keturunan
Dayak
Bakumpai
yang tinggal di kota Samarinda, Kalimantan Timur. Maka jabatan
sebagai kepala bagian medis di Rumah Sakit Umum Balikpapan merupakan
salah satu pencapaian besar dalam hidupnya.
Usia
Ibu masih muda saat ia menjadi kepala bagian medis di rumah sakit
umum dan tentu kota Balikpapan teramat besar untuk gadis kampung
berusia dua puluh tiga tahun seperti Ibu. Di kota ini, petualangan
cinta Ibu dimulai. Seorang laki-laki dari seberang telah memikat
hatinya. Seorang laki-laki peranakan Tionghwa-Banten yang
membisikan manisnya hidup di telinga Ibu. Seorang laki-laki yang
kelak akan menikahi Ibu dan juga menjadi Bapakku.
.....
Dua
tahun berjalan, Bapak mendatangi Alm. Nenek untuk melamar Ibu. Waktu
itu seperempat abad sudah usia Ibu. Aku pernah melihat album foto
pernikahan mereka. Sebuah resepsi sederhana, dengan seperangkat alat
sholat serta cincin emas yang beratnya tak sampai dua puluh empat
karat jadi mas kawinnya.
Atas
permintaan Bapak, Ibu terpaksa meninggalkan pencapaian terbesar dalam
hidupnya. Ya, begitulah pernikahan. Ironis. Dan perjuangan Ibu
dimulai sejak itu, ketika ia harus menyimpan rapi seragam perawatnya
besreta ijazah diplomanya yang sangat ia banggakan ke dalam koper
besi peninggalan Alm. Kakek.
Mungkin
banyak dari orang di kampung yang iri kepada Ibu, mengingat hanya ia
yang berhasil mendapatkan mimpi dari hampir seluruh anak perawan yang
lahir dan tumbuh besar di kampung itu. Menikah dengan laki-laki dari
seberang dan kelak akan membawa mereka keluar dari tempat terpencil
ini menuju sebuah kebebasan yang bernama kota. Ya, kota. Dan bagi
mereka, kota berarti Jakarta.
Berat
bagi Ibu untuk meninggalkan kampung halaman namun begitulah kehidupan
suami-istri. Ironis. Dan sekali lagi perjuangan Ibu berlanjut, ketika
“istri harus mengabdi kepada suami”, dan Ibu harus meninggalkan
satu-satunya hal yang paling ia cintai dalam hidup ini. Alm. Nenek.

Komentar
Posting Komentar