Cinta Imajinatif
Ibarat
sekumpulan nada yang bersanding dengan ingatan,
juga
suara-suara dari masa yang menguning-kering
Terbesit
sebuah asa mencipta satu dansa lantas tersipu lagu malu-malu
Lalu
tapak demi setapak mengalun lincah
seperti
pergumulan angin yang lama sudah tak saling jumpa
Mendiamkan
cemas gusar pun tenang,
angin
turut mengantar ia melalui genta kecil di tepi rasa kekasih
Bumi
dan langit telah bersekutu,
dan
waktu sejenak terlelap pada permainan imajinasi antara kamu–aku,
kita
Saat
merapal sajak jadi jamak,
kelak
di bibirku bekas gincu mu tercetak
Juga
guratan aster yang tampak tersenyum malu di telinga kirimu.
Menyisakan
jejak tak terhapus dalam penciumanku.
Serta
sayu mata mengerling manja,
meski
tersadar sulit bagi hal itu untuk dilakukan
Pada
barisan irama Bach,
tatap
mata kita saling bertemu dan bercengkrama begitu intim,
Sangat
intim seakan paru-paru saling diam saking iri.
Hingga
terdengar gemericik sungai kata dari bahasa kami
Nafas
kita begitu dekat.
Menarik,
hingga isi bumi pun terangkat.
Hanya
seberapa jarak seketika kita adalah porosnya
Mega
- mega lembayung terkepal,
terbias
sentrifugal waktu yang kejam.
Terpana
hingga sudah sewindu tak terasa
Dan
sampailah di titik nadir-nya.
Dimana
kita saling mengurut kembali potongan rupa
juga
lembaran kata-kata
Serpihan
kenangan berserak layaknya dandelion yang terhembus nafasmu
kala
di tengah rerumputan menguning
Terhampar,
terlalu luas.
Hingga
pandangannya mengabur,
melanggar
batasan perihal perasaan yang tidak kita inginkan ini
Berdesir
ibarat pasir yang terhimpit beban angin.
Ingin
pergi tapi sekedar ilusi
Tak
mau beranjak,
namun
tak ingin melawan kehendak.
Berharap
jalan lapang kembali ke titik nol
Benak
runtuh luluh lantak.
Tinggal
kerangka jiwa merindu sempurna.
O,
dunia, seluas mata kah dikau?
Saya
dan seorang “Penempakata”, Angga
Hardy


Komentar
Posting Komentar