Menyapa Pelupuk Nusa

Gurat langit saling menyayat dedaunan memagut bersahut sahut. Adakah ini menjelang petang
Senja mengurungkan lesung sang pelangi,
melukis semburat merah saga yang risau.
Kaki langit gemetar,
menebar gemericik kesenduan seluas layar aurora.
Kelam bak lembayung tanpa pesisir

Hangat terjerembab pilu menyeruak nyata,
puing berserakan saksinya

Pijakan berhamburan bercampur dengan gemuruh bumi,
juga jeritan lirih yang ditiup angin di ujung banda
Saling berbagi hambur menyeruak dari perut gedung gedung yang berdansa dalam diam
saling berteriak,
histeris,
seakan mengulang beberapa yang silam
namun terus mengamati lewat hening

Di atas bumi serambi mekah,
bergetar bandang tak terdera,
tangis keterbataan saksikan bibir pantai

Tanpa dansa dansi dari bukit memandang tangis dalam pasi. Tenggelam surya terbitlah asa
Wajah – wajah takut, berbicara tentang kegelisahan.
Meringis, ketika raut pantai yang mulai menyeringai
Kala genta berdenting nyaring.
Terbelah serambi sama rata, mengaduk asa tanpa putus

TERPECAH, semua yang menyambung sendi-sendi nafas.
Kosong namun sesak, dan ufuk meleleh seketika.
Paras merengut seketika awan berjatuhan,
mengharap terik mentari menguap lautan.
Namun biji mata langit cuma tertunduk bisu,
menciut,
oleh kelakar urat nadi bumi

tangis sendu saling berburu, niat samudera mengecup pantai terikrar lantang
dan semua perkataan menjadi permohonan pada Dzat yang tak tersentuh tentang hari pembalasan

Tuhan, jikalau ini memang amarahmu, marahlah,
dan peluklah aku kembali kepadaMu.




-->
Saya bersama The Wordsmith dan Daniela Hawwa Madina


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer