Sepatu Pasir
Melayang
seperti hujan yang menguap,
menembus
dogma yang bersandar
Setiap
persimpangan yang saling berandai-andai,
ketika
mata sayu menangkap warna warni yang tak padu padan
Riuh
rendah bisikan angin terus mengombang ambing.
Sulit
untuk berbelok, maupun mendarat di kelopak impian
Bisikan
semu mengalun manis ketika paras langit melengkungkan garis senyum
dan lentik yang mengkerlip
Pendaran
biru seraya hadir.
Meronakan
kelabu,
menghempaskan
senyuman dibiasnya
Bentuk
samar dari yang paling sempurna,
menipu
mentah logika hingga kaca-kaca di matanya pecah berhamburan.
Ibarat
jalan patah tengah,
ingin
melaju terhalang kaki kelu,
ingin
kembali seakan tak punya nyali.
Tubuh
lemas di sudut.
menunduk
seakan letih menegak,
Isaknya
yang merintih pelan. Begitu menyayat.
Sesal
sudah tertelan,
asa
sudah memudar seperti irama sang waktu yang tak kenal mundur. Terus
melaju meski membosankan
Ingin
jatuh namun kehendak tak sejalan.
Menyusur
tapak demi tapak, kilo demi kilo, menunggu senja tersenyum.
#BelajarPuisi
bersama Angga
Hardy
& Ferika
Amalia


Komentar
Posting Komentar