Tanda ?
Seperti
alunan dawai dawai dari benang sutera yang hampir putus. Bergema di
seluruh kepala.
Ujung
nada yang tajam berdansa resah di ruang imaji
menipu
mimpi malam,
kenistaan
anggur dalam cawan emas.
Berseru
sebagai awal mata membuka,
membakar
semua kejujuran di kanvas,
dari
sebuah kuas berlumur dosa dan harta.
Wajah
yang menangisi rona mendung di pelupuk,
duduk
meringkuk dan mengigil.
Lidahnya
kelu, tak mampu memanggil
Kelu
ingin tersenyum pada lembayung senja yang mendung,
ingin
jatuh pada asa yang disangkal
Meskipun
sering tapi tak pernah sampai,
bagai
melempar batu dalam lumpur.
Layaknya
layar perahu yang perlahan hilang berkayuh
dan
jarak demi jarak, pandangan mulai penuh.
Genangan...
Bayangan
bimbang menjelang,
langkah
kini menyanggah.
Simpul
senyum tersirat semu
Siapakah
pemilik semua ini?
senyum
kaku nan palsu yang bersemayam di rongga dagu?
Lagi,
#BelajarPuisi
Bareng Angga
Hardy
dan Ferika
Amalia


Komentar
Posting Komentar