Tentang saya yang...


Padahal baru tiga minggu yang lalu kamu datang, seolah kembali setelah puluhan tahun kamu habiskan untuk bergelut dengan ambisi dan hasrat tentang apa itu menjadi lelaki sejati. Saya rasa kamu tahu dan paham betul seperti apa rasanya sebab kamu lebih dulu melihat segalanya, jauh dibanding saya.

Mungkin banyak hal tentang saya yang terlewatkan olehmu. Tentang bagaimana saya yang lebih suka menghisap tembakau kretek ketimbang tembakau putih kesukaanmu?

Tentang racikan empat sendok kafein dan satu sendok gula yang pastinya akan membuatmu mengernyitkan dahi ketika mencicipinya? Untuk dua hal ini sepertinya saya sangat pandai meniru gayamu. Ketika menarik kepulannya yang dibarengi dengan setenggak cangkir kafein yang masih beruap, dan perempuan tua itu akan dengan segera melancarkan peluru berupa nasihat yang didapatnya selama mengenyam bangku pendidikan di sekolah keperawatan.

Dan seketika saya tersadar bahwa kamu memang melewatkan semuanya. Tentang bagaimana untuk pertama kalinya tubuh ini penuh luka dan memar demi apa yang dulu sering kali kamu sebut dengan “harga diri”?

Tentang bagaimana saat pertama kalinya saya berhasil merebut hati seorang gadis?

Tentang bagaimana ketika untuk pertama kalinya saya harus bersikap dewasa dengan membesarkan hati mereka yang sudah kamu sakiti ?

Tentang bagaimana rasanya harus menjadi satu-satunya pegangan yang kokoh ketika tidak ada satu pun dari mereka sanggup untuk saling menopang?

Tentang bagaimana saya harus menghadapi pertanyaan orang-orang yang sulit untuk saya tebak, apakah mereka berpura-pura iba atau hanya ingin sekedar menjadi pahlawan kesiangan?

Saya tahu, bagi mereka atau mungkin bagimu, ini semua adalah kebencian yang saya pelihara semenjak kamu pergi, dulu. Tapi maaf, jangan melihat ini semua dengan semudah itu, karena sebesar apapun hal yang saya tanamkan ini merupakan bagian yang kasat dari betapa besarnya rasa cinta yang saya simpan untukmu.







Komentar

Postingan Populer