Semalam kita bertemu, lagi..

Sungguh menyenangkan rasanya ketika akhirnya kamu mengunjungiku, lagi. Di sini, di tempat aku merebahkan seluruh isi dunia yang tak mampu mereka lihat namun begitu mudah kamu rengkuh.
Malam tadi, setibanya aku yang nyaris tersesat akhirnya dapat tersenyum lega ketika mendapatimu terduduk seorang diri dengan ribuan lembar puisi yang telah kamu tulis sejak pertama kita bertemu, lima ratus empat puluh lima hari yang lalu.

Tubuhku mematung dan kamu mendadak beku. Begitu hening, hanya sorot mataku yang bertanya dan senyumanmu menjawab kemudian.
Perlahan, kamu menguatkan diri dan mulai membacakan bait demi bait dari tiap lembar di tanganmu. Aku terkesima mendengar suaramu, lagi.

........


Hampir pukul tiga dini hari, sepertiga malam, tadi. Aku tersentak dan duduk tepat di ujung kasur lipat tepat biasa aku merebahkan resah dalam lelap. Isi kepalaku seperti mengejang, penuh sesak. Dunia seakan kehilangan poros, juga hukum grafitasi yang mendadak tenggelam ke dalam daya tarik semesta.
Pikiranku bergerak terlalu cepat, seperti mengejar atau mencari sesuatu yang bersembunyi entah dimana. Aku melirik sekitar dan menyulut batang kretek yang tercecer di samping phone cell. Ingatanku meracau tak karuan, berdebat hebat dengan akal sehat yang terkesan tak mau tahu. Aku tarik lebih dalam nicotine yang kubiarakan menyala sendirian di bibir asbak. Lebih dalam dan lebih dalam lagi, lalu perlahan seluruh isi otakku meleleh sesaat kudapati bulan sabit yang merebahkan lengkungnya diantara dua kerlip gemintang, sedang mengintip dari balik jendela.





















*Mengumpulkan sesuatu yang tersisa dari rasa kantuk semalam


Komentar

Postingan Populer