Berpendar

Inilah kita, yang tak terencana
dalam pertemuan yang selalu tak disengaja,
di perempatan yang biasa, tatapan kita bertemu
diantara kerumunan orang yang siap tidak siap,
mau tidak mau, bergegas menyeberang.
Senja itu tatapmu terlihat lain. Jauh lebih menyala
ketimbang merah kuning hijau yang juga mengedipkan matanya
padaku.

Tapi sering aku berpikir ulang perkara “menyala”,
sebab terkadang ia memicingkan pandangan.
Sedang kamu, tidak. Atau lebih tepatnya bukan.
Kamu berkerlip. kamu tidak ber”nyala”.
Kamu berpendar. 




 

Komentar

Postingan Populer