Gerimis
“Sepertinya gerimis”, kataku
tersenyum dalam hati. Aku mendengarnya. Turun menghampiri loteng
kamarku yang kian menampakan kerutan pucat, sebuah petanda bahwa
nyatanya waktu memang tak pernah berhenti. Aku melangkah menuju
jendela. Mengamati tiap titik gerimis yang perlahan semakin bertambah
deras, menimbulkan percikan – percikan kecil yang padat ketika
mereka jatuh ke atas tanah.
........
Namaku Sofia. aku ini pencinta gerimis.
Entah seberapa sering, aku pun lupa, menunggu saat ini datang dan
dini hari ini aku ingin berteriak, melompat, kegirangan. Namun
sayangnya badanku seperti tertahan oleh rasa lelah dan jemu yang lama
sudah bernaung juga di sini, dalam tubuhku. Menemaniku menunggu dia
datang lagi, gerimis.
Wajahnya tidak banyak berubah, juga
gaya rambutnya yang masih tetap sama meskipun kali ini tanpa olesan
gel atau minyak rambut seperti dulu, ketika pertama kalinya
kita bertemu.
Seperti biasa, kamu datang dan langsung
mengecup keningku terlebih dahulu. Lalu kamu duduk tepat disampingku,
mengelus kepala dan wajahku sambil bercerita tentang keadaan rumah
yang baru direnovasi. Tentang bagaimana bentuk dapurku kini setelah
temboknya kamu bobol sampai ke bagian belakang rumah, sesuai
permintaanku agar aku dapat memasak sambil mengawasi Connie, calon
buah hati kita, bermain – main di halaman belakang. Kamu juga
menyarankan agar sebaiknya kita mencari orang untuk membantuku
mengurus rumah karena menurutmu aku akan menjadi sangat sibuk setelah
Connie lahir dan pastinya aku tidak akan mampu mengurus rumah
sekaligus.
Lalu secara mendadak, kamu menjadi
histeris. Kamu menekan tombol yang tergantung di samping tempat
tidurku sambil berteriak – teriak yang bagiku terdengar seperti
meminta bantuan dan beberapa orang perempuan dan seorang laki –
laki tua dengan seragam putih masuk menghampiri tubuhku. Semuanya
mulai terlihat seperti mengayun, mengalun. Perlahan tubuhku begitu
ringan dan rapuh, seperti titik air yang jatuh. Hampir sayup - sayup
kudengar suaramu yang bercampur tangis, memintaku untuk tetap berada
di sini. Aku melihatmu memegang erat tanganku dan bersamaan dengan
itu aku melihatnya, lagi. Ketika kutatap dalam – dalam kedua
matamu, dimana wajahku terukir jelas di dalamnya. Gerimis.


Komentar
Posting Komentar