sebentar saja, Nona..

“Aku pamit, Tuan”, begitu katamu.
Itu terakhir kali kita bertemu. Sebagai tuan dan nyonya, tentunya.
Aku diam. Bukan acuh. Hanya berharap bahwa aku segera terbangun.
Langkahmu begitu pelan, sesaat melambat. Namun tidak menoleh.
Aku ingin mengikuti tapi kamu melarang. Keras!
Aku cuma mengamati.
Aku cuma bisa memperhatikan.
Aku hanya mengawasi.
Dari kejauhan.
Dari kedalaman jarak kognisi dan afeksi.
Pundakmu yang perlahan samar.
Tidak hilang, hanya mengabur. Hingga kini.

.....

“Tolong menoleh sebentar, Nona”, kataku dalam hati.








Komentar

Postingan Populer