Burung Hitam
Ada
satu ketakutan yang aneh dalam diriku, yang membuatku berpikir
terlalu jauh namun. Kamu ingat, kita sering
membicarakan hal ini sampai larut, sampai baterai ponsel kita
memanas dan kamu tertawa kecil –Tidak menertawai, hanya saja kamu
merasa bahwa aku terlalu serius menanggapinya.
Tentang
burung hitam. Bukan burung gagak atau sejenisnya namun burung hitam
yang hinggap sepanjang malam menjelang kematian. Semacam paradoks
menurutku, dan pastinya dunia akan memandangku dengan tatapan
berkerut karena aku berbicara tentang mitos di tengah peradaban
serat optik.
“Kita
semua punya ketakutan, termasuk kamu”, begitu katamu menenangkan.
“Itu kenapa kita harus mempersiapkan segala sesuatunya sedini
mungkin”, tambahmu lagi.
Iya,
mungkin. Terkesan seperti penyangkalan tapi apa yang kamu ucapkan ada
benarnya. Pada akhirnya setiap orang punya “burung hitam”nya masing-masing, tanpa terkecuali. Meski terkadang berlebihan namun memang
sebaiknya aku mempersiapkan diri. Aku rasa perkara mempersiapkan
tidaklah terlalu sulit. Ada kamu, yang juga tengah
mempersiapkan diri, maka ada baiknya jika aku dan kamu, kita, mempersiapkannya bersama.
Burung
hitam bukanlah pencuri. Ia hanya akan membawa kita pergi menuju kebebasan.
*saat mendengarkan lagi lagu Black Birdnya The Beatles.


Komentar
Posting Komentar