Jatuh Cinta Kepada Senja(mu)



Tepat di depan beranda aku duduk menghirup tegukan terakhir dari cangkir kopiku yang mulai kehilangan rasa, dan kamu. Saat itu adalah senja dimana takdir dan nasib saling beradu, bertarung mati – matian untuk dimenangkan. Dan entah siapa yang lebih dulu, salah satu dari kita mulai didera kebimbangan tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari–saat dimana kita mencoba untuk mengingkari sesuatu yang sulit untuk disangkal.

Aku memutar kembali gambar dirimu yang terekam dalam sadar dan bawah sadarku. Tentang perasaan dan keadaan yang tak pernah kita inginkan ini. Aku memilih untuk tidak menentukan sebuah akhir karena nyatanya aku akan selalu jatuh cinta kepada senja–yang kuyakini bahwa senja itu adalah kamu.




*Jakarta, 9 September 2012. 23:30 WIB

 

Komentar

Postingan Populer