Kita– Untuk Yang Terakhir Kalinya
Ada yang menarik
dari sebuah pertemuan. Mereka bilang semua itu semacam konspirasi
yang diciptakan oleh alam semesta agar manusia dapat saling
terhubung, satu dengan yang lainnya. Bahwasanya setiap dari kita
menyadari kalau sesuatu yang memiliki awal pasti memiliki akhir,
seperti juga kita– Bukan kita kebanyakan, tapi kita; Aku dan kamu.
Kadang kebodohanku
menjadi sangat berlebihan ketika tanpa sadar menganalisa, menghitung probabilitas tentang apa yang terjadi diantara kita– Itu hanya sebatas angka, kenapa bisa-bisanya aku
mengkalkulasikannya. Dan aku ingat bagaimana keningmu yang
mendadak berkerut tiap kali aku melakukan kebodohanku tersebut. Tidak
bertengkar, hanya saja kamu menganggapku terlalu kritis
menanggapinya.
“Kamu jangan
terlalu sering memaksakan otakmu bekerja. Ingat ini sepenuhnya soal
perasaan, tidak terlalu banyak korelasinya dengan pemikiran”,
begitu katamu, tersenyum sambil mengecup tipis ujung bibirku.
Ya, begitulah
kamu. Satu-satunya homo sapien yang kuanggap paling bisa
berkompromi dengan segala macam waham yang bermain-main dalam
pikiranku. Ibarat botol, kamu adalah tutupnya yang tidak pernah
membiarkan aku terlalu lama terbuka. Tidak pernah membiarkan lamunan
membawaku hanyut, sendirian. Mungkin benar apa yang dikatakan John
Lennon, “As usual, there is a great women behind every idiot”.
Setuju?
Kita saling
berbagi. Ketakutan, kesenangan, air mata, dan tentunya kebahagiaan.
Ketika itu, waktu menjadi sangat tak ternilai dan tergantikan, karena
setiap perjumpaan memiliki arti tersendiri dalam hati kita
masing-masing. Afeksi yang begitu kuat terikat sampai kita
menyangkal sejenak apa yang jelas akan terjadi pada kita kelak– Kalau nyatanya ada begitu banyak bidang tembus pandang yang segera
menjadi sekat diantara kita. Aku dan kamu. Dan sampailah kita di
sana, ujung cerita yang entah sejak kapan dimulainya. Kenyataan
perihal perasaan kita yang terlanjur terkait erat sedangkan langkah membawa kita pada persimpangan tanpa penunjuk arah yang
jelas.
.....
“Aku cinta
kamu. Apa kamu juga cinta sama aku?”,
“Iya. Aku
juga cinta kamu”.
“Berarti ini
saatnya”,
“Ya. Ini saatnya”.
“Jaga
perasaanmu baik-baik karena hanya di situ kamu bisa menemuiku”.
.....
Ada yang menarik
dari setiap perjumpaan. Bahwasanya ini semacam konspirasi alam
semesta agar kita saling terhubung satu sama lain. Ketika kita sadar
bahwa sesuatu yang dimulai pasti berakhir. Seperti juga kita. Bukan kita kebanyakan, tapi 'kita'. Aku dan kamu yang kini
perlahan tengah melepaskan jemari yang pernah saling menggenggam erat.
“Begitu juga
kamu. Jangan biarkan pikiranmu terlalu penuh, karena itu akan
membuatku sulit untuk berdiam diri di dalamnya”, ucapmu sambil
mengecup tipis ujung bibirku– Untuk yang terakhir kalinya.


Komentar
Posting Komentar