Puteri Bintang

Terkadang aku ingin bertanya banyak tentang apa yang sedang kita rasakan saat ini. Apakah ini hanya sesaat, atau waktu hanya sedang menunda dalam kurun tertentu sampai kita betul-betul siap. Sebenarnya apa yang terjadi pada kita?”

.......

Sudah hampir jam dua belas. Siang itu aku duduk begitu resah memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Keretamu tiba sebentar lagi dan berarti ini merupakan menit-menit terakhir bagiku menyusun kalimat serta sikap untuk menyambut kedatanganmu, satu-satunya wanita yang begitu betah berdiam diri dalam pikiranku. Ini pertama kalinya, setelah hampir enam tahun lamanya kita tidak bertukar kata dan tawa. Tiba-tiba ada rasa yang begitu meluap dalam dadaku– Seperti dulu, saat tatap mata kita saling bertemu. Aku mencoba menerka-nerka, bagaimana penampilanmu saat ini? Si “gigi-besi” dengan lesung pipinya yang manis– Yang dulu sering berkhayal kalau dirinya adalah seorang puteri bintang yang sedang tersesat di jagat raya. Pengeras suara yang lantang membangunkan lamunanku. Kereta jurusan Solo-Jakarta segera tiba. Samar, kudengar laju kereta yang perlahan mendekat. Keretamu tiba. Satu persatu penumpang turun menghampiri keluarga dan kerabat yang sudah menunggu. Aku berjalan melewati orang-orang yang sibuk menurunkan barang bawaannya, dan sampailah di gerbong terakhir, aku tidak menemukanmu. Aku mulai panik. Berjalan sedikit tergesa sambil memperhatikan kerumunan orang, dan kamu tetap tidak kutemukan.

Aku duduk di tempatku semula, mencari namamu dalam daftar kontak di ponselku– menekan keypad dengan tidak beraturan. Berkali-kali aku coba menghubungimu namun hanya nada sambung yang terus menjawabku. Dan tanpa kusadari ada seseorang yang sudah dari tadi berdiri di samping tempatku duduk– Seorang perempuan berkerudung merah yang sedari tadi melihatku sambil tersenyum geli. Tunggu, sepertinya senyuman itu tidak asing. Aku serasa begitu mengenali lesungan di pipinya. Ya, ini kamu. Aku berdiri mematung memperhatikanmu sambil berusaha keras merapikan denyut jantungku yang berhamburan.

Ini benar kamu?, tanyaku.

kamu lupa?”, jawabmu tersenyum.

kamu terlihat lain. Gak seperti terakhir kita ketemu.”, kataku.

Hey, kita bukan lagi belasan. Kawat gigi tidak lagi terlihat menggemaskan bagi mereka yang sudah dua puluhan”, jawabmu– Duduk tepat disampingku, memancing tawa yang lama sudah tidak meledak diantara kita.

Maaf ya kalau tadi aku sulit mengenalimu. Sekarang kamu berkerudung dan itu bikin pangling”, ungkapku di sela tawa kita yang mulai mereda.

Kamu gak suka?”, tanyamu sedikit menggoda.

Suka kok. Kamu terlihat jauh lebih manis ketimbang dulu. Makanya aku sampai gak ngenalin. Bener-bener gak ngenalin”, jawabku memuji.

Kamu tersenyum mendengar perkataanku dan kamu memandangku begitu seksama– Seperti mencari sesuatu.

Kamu emang gak banyak berubah. Masih seperti dulu”, ungkapmu.

Masa sih? Perasaan terakhir ketemu, aku gak segemuk ini dan tidak berewokan. Maklum, suka lupa ngurus diri”, jawabku– Tertawa kecil sambil menggaruk kepala.

Jangan dicukur ya. Jenggotnya biarin aja. Aku suka. Kamu kelihatan lebih keren”, jawabmu tersenyum sambil binar matamu terus mengamatiku.

Udah lama banget ya, kita gak kayak gini”, timpalku sambil membalas senyummu.

Maksudnya kayak gini?”, tanyamu dengan tatapan yang kini tampak semakin mencari-cari.

Ya kayak gini. Bisa ngobrol langsung. Gak kayak biasanya, yang cuma lewat telepon atau SMS”, sanggahku– Kini aku tidak bisa lagi menyembunyikannya. Aku tidak lagi bisa mengelak.

Mendadak senyumanmu kian melebar. Binar di matamu merekah, membesar ke seluruh bagian di wajahmu. Ronanya semakin terlihat. Begitu cantik, berpadu dengan kerudung merah yang kini sedang kamu kenakan.

Kamu kenapa?”, tanyaku mencari tahu.

Gak apa-apa. Mendadak seneng aja”, jawabmu dengan sinar mata yang lebih cemerlang.

Seneng kok mendadak. Emang bisa?”, tanyaku semakin penasaran.

Bisa dong. Senang itu kan perasaan. Kita gak pernah tahu perasaan seperti apa yang akan datang ke dalam diri kita. Jadi nikmati sepuasnya begitu perasaan itu datang”, jawabmu semakin membuatku penasaran.

Wajahku mendadak terlihat bodoh. Semakin dipenuhi dengan kebingungan dan rasa penasaran yang kian menjadi-jadi.

Yuk, kita pulang. Udah kangen banget sama rumah”, katamu memecah kebingunganku.

Kita beranjak meninggalkan kursi di stasiun itu. Kursi yang jadi saksi pertama pertemuan kita ini. Aku membawakan tasmu menuju mobil yang kuparkirkan di seberang stasiun. Sepanjang perjalanan pulang, kamu tersenyum geli melihatku yang menyetir sambil terhanyut dengan rasa penasaran. Dan entah kenapa tiba-tiba kamu memintaku untuk menepi sebentar. Lalu dengan segera wajahmu bergerak menghampiri telinga kiriku. Bibirmu bergerak perlahan, mengatakan sesuatu,

Aku senang karena kini puteri bintang tidak lagi tersesat karena sekarang dia sudah tahu kemana harus pulang”.

Kita saling bertatapan, lebih dalam dari sebelumnya. Dan perlahan senyum di bibir kita saling bertemu. Rindu.






Komentar

Postingan Populer