Perihal Kita
Ada
yang menarik dari apa yang terjadi diantara kita. Tentang konspirasi alam
semesta yang membuat kita saling menemukan satu sama lain, dan menghadirkan
perasaan aneh yang membuat para kupu menari-nari di dalamnya. Tentang
persekongkolan imajinasi dan mimpi yang membuat kita terjaga sepanjang malam – Saling memikirkan serta membayangkan satu sama lain. Kamu tahu, ini sungguh
menakjubkan. Jauh dari apa yang kita perkirakan sebelumnya. Ketika tanpa sadar
dunia kita saling melebur, saling mengerat, sampai terkadang kita sulit
menghela nafas sejenak.
Kita
bertukar tatap, kata, kenangan, juga
rencana. Kita saling menyamakan pikiran, mengenali kebiasaan, lalu merangkum
dan melekatkannya ke dalam ingatan. Kita saling mempelajari dan lalu
menciptakan pola yang tidak terlalu
rumit, perihal arti mengerti dan memahami – Bahwa semuanya adalah tentang
saling menjaga dan melengkapi. Kita mendasarinya dengan hal-hal sederhana yang
membuat kita saling membutuhkan, karena kita sadar kalau kita bahagia dengan
apa yang telah kita miliki saat ini.
Sampai saat
kita dipertemukan dengan beberapa realita yang memaksa kita berjalan melawan
rotasi. Ketika kognisi dan afeksi sedang tidak sejalan, sehingga neurotransmitter diantara kita mengalami
sedikit gangguan. Saat dimana kita saling mengurung diri – Aku menghindar dan
kamu menyangkal. Masa dimana kita bertindak atas kemauan sendiri dan tidak mengindahkan
satu sama lain. Masa dimana kita belajar tentang jarak – Bahwa ternyata jarak
membuat kita memahami arti rindu.
………
“Jatuh cinta
itu takdir. Menikah itu nasib”, begitu jawabmu atas sekian banyak pertanyaanku
tentang apa yang akan terjadi dalam hidup kita selanjutnya. Ya, memang demikian
adanya. Hidup memiliki kakinya sendiri, dan aku tidak pernah menduga jika kamu adalah salah satu dari rentetan
takdir yang harus kujalani. Namun hebatnya, kamu menghadirkan begitu banyak
rencana dalam hidupku. Membuatku belajar untuk peduli dengan apa yang akan
terjadi nanti – Bahwa hidup harus punya arti.
Apa yang
terjadi diantara kita memang mengagumkan. Aku yakin kamu juga sama, bahwa
takdir ini teramat besar untuk masing-masing diri kita, sehingga mungkin membuat kita tidak lagi peduli
dengan nasib apa yang kelak akan menimpa. Sebab terkadang takdir terasa lebih
konkrit ketimbang harus menduga dimana kaki kita akan berhenti pada akhirnya – Seperti saat ini, dimana kita masih
saling merapal nama dalam tiap panjatan doa.
*Jakarta, 4 November 2013.
15:22 WIB.


Komentar
Posting Komentar