Aan Mansyur, 21 Mei dan "Cinta yang Marah"
Kelak suatu hari sebelum salah satu di
antara aku dan kau tersangkut maut, di hari ulang tahun kau, saat tidak
ada pekerjaan kantor yang melarang kau cuti, aku akan mengajak kau menjadi tua
renta lalu mengajak kau kembali menjadi anak-anak
Aku akan mengajak kau menginap semalam di salah
satu panti jompo, tempat orang-orang yang punya anak-anak terlalu sibuk, tempat
orang-orang merasa dekat sekali dengan makam, tempat orang-orang susah payah
mengingat bagaimana caranya tersenyum.
Di sana aku dan kau akan membaca sajak-sajak
cinta kepada mereka. Dengan begitu aku dan kau bisa membayangkan bagaimana
kelak kalau aku dan kau sudah tua, bagaimana rasanya berjalan-jalan di tepi
jurang maut
Besoknya, aku akan membuat sepasang
layang-layang. Kemudian akan aku ajak kau ke sebuah padang. Jika aku susah
menemukan padang, aku dan kau akan memanjat ke atap gedung yang menyerupai
tanah lapang, di mana seseorang sering memarkir pesawatnya.
Di sana aku dan kau akan bermain layang-layang
sepuasnya. Mungkin aku dan kau sepasang tubuh dewasa yang tak lagi memiliki
jiwa kanak-kanak. Siapa tahu layang-layang menerbangkan aku dan kau kembali ke
masa kanak-kanak, saat senja masih bening, saat pohon-pohon masih hijau, saat
cinta belum terlalu rumit buat dipahami
*Diambil
dari salah satu bait puisi karya Aan Mansyur, “Cinta yang Marah”. Membaca puisi
ini, serasa ada yang menari (serupa kupu-kupu) di dalam perut.

Komentar
Posting Komentar