"Kita".

Kita. Ibarat hitungan mundur, menunggu tiba waktunya sebuah pertemuan tak terduga, antara kamu dan aku – Yang belum menjadi kita seutuhnya.

Kita. Entah sadar atau hanya sekedar berpura-pura, bahwa kita ini memang sengaja dipertemukan – Meski secara tidak-sengaja.

Kita. Seperti gejolak yang bergulung memutar teratur dalam hati.  Saat hanya ada kita, berdua. Serupa ombak sayup melandai, menghantarkan senja kembali pulang ke peristirahatannya – Dimana ronanya yang saga menyisakan semburat di pipimu yang lesung.

Kita, yang berjanji untuk bertemu kembali pada suatu kencan buta. Dua lilin menyala, yang nyalanya tak sebanding dengan nyala di kedua bola mata. Serta aroma bunga jasmine yang terpancar dari dirimu. Begitu menenangkan – Yang semerbaknya terus melekat, tiap kali kutarik-ulur nafas.

Kita. Serupa diksi, tentang arti “memiliki”. Aku dan kamu. Saling mematri. Saling merapal nama dalam doa – Tiap kali aku bersujud. Tiap kali kamu berlutut.

Kita, bersama, menjelajah seluruh isi semesta – Meski terkadang harus melawan rotasi. Gravitasi yang membawa kita terbang semakin tinggi, meninggalkan mimpi, juga harapan, yang mungkin tidak benar-benar kita kehendaki.

Kita. Serangkaian kisah yang mungkin akan kamu ceritakan dengan penuh binar, perihal dua orang yang saling jatuh cinta – Sesaat sebelum anak-anakmu tertidur, kelak. 


*Jakarta, 4 Juli 2013.   






Komentar

Postingan Populer