Sesaat Sebelum Bom Jatuh, Kita Berbincang Tentang Bolu Pandan Dan Alat kelamin
........
Sepagi ini kulihat orang-orang berhamburan dengan wajah panik dan ketakutan. Bunyi bising klakson kendaraan bermotor yang berhamburan, melaju dengan tidak beraturan, saling berbenturan. Orang-orang berlarian, sambil menggendong anak, membawa jinjingan berisi dokumen-dokumen penting, sembari berteriak histeris. "Cepat! Cepat! Kita harus pergi sebelum mereka datang!", kata seorang suami kepada istri dan anaknya. Sungguh pemandangan yang tidak menyenangkan untuk dinikmati, terlebih dari tempatku sekarang ini, di depan jendela meja makan rumahku.
"Tunggu ya, sebentar lagi kue bolunya mateng. Aku bikinin kopi buat kamu dulu", begitu kata Abel –Perempuan terbaik yang sudah menemaniku selama 10 tahun terakhir. Perempuan yang percaya kalau sisa hidupnya akan lebih bahagia jika bersamaku.
"Kamu gak pengen lari kayak mereka?", tanyaku, duduk sembari menyalakan rokok.
"Emang kamu bisa nyeruput kopi dengan nafas terengah-engah karena kecapean lari? Itu kegiatan yang sangat gak menyenangkan.", begitu jawabnya sambil menuang air panas ke dalam cangkir.
Aku tersenyum. Memang tidak salah aku menjadikan Abel sebagai Istri, menjadikannya pendamping hidupku. Abel tidak seperti perempuan kebanyakan. Dia punya caranya sendiri dalam berpikir, bertindak, bersikap dan berucap.
Abel datang membawa secangkir kopi hitam tanpa gula untukku dan teh beraroma melati untuknya sendiri. Kami berdua duduk di meja makan menikmati minuman masing-masing sambil berbincang tentang apa saja. Mulai dari program kehamilan yang sudah kami jalani sejak awal tahun, yang kini sudah membuahkan hasil –Abel ingin punya tiga anak, sepasang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, sedangkan aku merasa cukup sepasang saja, anak laki-laki dan perempuan. Sebagai seorang istri, Abel sangat pandai menggodaku.
"Kok cuma dua anak? Gak kuat ya kalo bikin sampe tiga?", tanya Abel, tersenyum seakan menantang.
"Alah, biasanya juga Kamu selalu klimaks duluan. Sampe beberapa kali lagi", balasku.
"Hei bedebah kesayanganku, Kami ini mahluk berkelamin liang. Kami bisa klimaks berkali-kali, dan sesudahnya Kami akan semakin berhasrat. Tidak seperti kalian para mahluk berkelamin panjang. Sesudah klimaks biasanya tidak lagi berhasrat. Emang dari sekian banyak buku yang bertumpuk di lemari dan rak ruang kerjamu tidak ada buku yang membahas masalah beginian ya? Tentang biologi atau anatomi tubuh manusia?", balasnya tak mau kalah dengan senyum yang lebih menantang. Aku tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Bukan tidak setuju, hanya bersyukur memiliki istri seperti Abel.
Jalang! Sundal! Begitu prasangka orang-orang pada perempuanku ini. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memahami caranya berpikir. Hanya orang-orang yang sudah lama mengenalnya, termasuk Aku, si bedebah paling beruntung di dunia –Paling beruntung karena mendapatkan cinta Abel.
Oven berbunyi, tanda kue bolu pandan telah matang. Abel berdiri mengambil sarung tangan, mengeluarkan loyang dari dalam oven dan menaruhnya di meja makan tempat kami berbincang. Abel memotong beberapa bagian lalu memindahkan potongan-potongan tersebut ke atas piring saji.
"Sabar, baru banget mateng. Masih panas", kata Abel sambil berjalan menaruh pisau potong ke dapur. Namun dalam beberapa langkah tubuh Abel berputar mendadak, menangkap basah tanganku yang sedang mencoba meraih sepotong bolu pandan di atas piring saji. Memicingkan mata sambil jarinya bergoyang kiri-kanan. "Jangan coba-coba!", mungkin begitu katanya memperingatkan, dan aku menarik mundur tanganku.
"Nah sekarang kue bolunya sudah bisa kita makan, Selamat makan", kata Abel sambil menertawakanku yang terlihat sudah sangat ingin menyantap hidangan yang tersaji di atas meja makan. Lalu terdengar bunyi dentuman, seperti ledakan. Terdengar tidak terlalu jauh dari tempat kami menyantap hangatnya kue bolu pandan buatan Abel, istriku.
Aku kembali bertanya kepada Abel, "Kamu beneran gak mau lari? Kalo gak lari, kita mungkin akan mati konyol di sini".
"Maksud kamu, kita akan menikmati kue bolu pandan ini sambil berlari?", balik bertanya. Respon Abel masih tetap sama. Memang tidak mudah mengubah pendirian istriku ini. "Kalo setelah mati nanti Aku masih bisa bikin kue bolu pandan dan nyeduhin kamu kopi, berarti mati konyol bukan masalah. Lagipula hidup ini memang konyol. Seperti lelucon".
"Lelucon?", tanyaku sambil menikmati potongan ketiga bolu pandan buatan Abel.
"Iya. Hidup ini kadang seperti lelucon. Contohnya, Aku. Anak perempuan pertama dari keluarga terpandang, keturunan ningrat, punya gelar magister ekonomi bisnis yang menghabiskan waktu di sini mendampingi suamiku, Kamu, seorang sarjana teknik lingkungan yang kini mengabdikan diri untuk mengembangkan konservasi hutan lindung di kota kecil ini. Iya, Kamu. Bedebah yang bikin Aku bolak-balik ke Rutan Salemba untuk bawain bolu pandan waktu kamu ketangkep karena kedapatan bawa ganja saat kuliah dulu. Padahal waktu itu banyak banget laki-laki yang ngejar-ngejar Aku. Laki-laki yang lebih ganteng, lebih kaya, lebih segalanya dari kamu", jawabnya.
"Kamu nyesel? Kalo iya, Aku minta maaf karena udah bawa kamu sejauh ini tapi masih belum bisa bikin kamu ngerasain hidup bahagia kayak yang aku janjiin waktu kita nikah dulu ", kataku tersenyum sambil menyeruput kopi.
"Emang dari omongan Aku barusan ada bagian yang bilang kalo Aku nyesel?", sanggah Abel. "Tapi ya mereka cuma bisa pamer. Narsis. Semuanya cuma soal kelamin panjangnya mereka aja. Sibuk mencari pengakuan. Toxic masculinity. Lucunya malah bedebah kayak kamu yang bikin Aku jatuh cinta. Malah bedebah kayak kamu yang mau dengerin nasehat Aku supaya lebih sering ngelakuin hal-hal positif. Tahan sama mood-swing Aku pas lagi datang bulan. Bedebah kayak kamu gak pernah ada pas Aku lagi seneng, tapi selalu jadi yang pertama pasang badan kalo Aku lagi kesusahan".
"Tapi soal kelamin panjang, Aku gak kalah dong sama mereka. Udah kamu buktiin kan?", tanyaku, tersenyum sambil menaikan alis kananku.
Abel tersenyum, kemudian menguncupkan bibirnya seperti mengecupku dari kejauhan sambil mengelus-elus perutnya. "Lihat kelakuan Bapakmu, Nak", mungkin itu yang dia sampaikan pada janin yang baru beberapa minggu ini bersemayam di perutnya.
Aku mengambil potongan keempat bolu pandan di atas meja. Menghabiskan potongan tersebut dalam tiga gigitan. Abel mungkin gagal dalam membuat sayur nangka dan telur balado tapi tidak untuk kue bolu pandan, karena dia tahu betul bahwa suaminya ini sangat menyukai kue bolu pandan; Bahkan saat berada di dalam kamar berjeruji besi, saat tahanan lain menunggu waktu kebebasan, Aku hanya menunggu waktunya Abel datang menjenguk membawa seloyang bolu pandan. "Emang gak bosen bolu pandan terus?", tanya Abel saat itu. "Enggak kok. Bolu pandan dan Kamu yang masih setia menunggu, itu lebih dari cukup", balasku.
........
Suara riuh di luar semakin menjadi-jadi. "Cepat, serangan udara sudah semakin mendekat ke daerah sini", teriak salah satu pemuda berseragam petugas evakuasi.
........
"Menurut kamu calon anak kita ini laki-laki atau perempuan?", tanya Abel masih sambil mengelus-elus perutnya.
"Laki-laki atau perempuan sama aja. Yang penting sehat, fisik dan psikis. Emang kamu maunya apa?", tanyaku balik kepada Abel.
"Aku maunya laki-laki. Kan anak pertama. Jadi nanti kalo kamu lagi tugas dan gak bisa pulang, ada yang jagain Aku di rumah", jawab Abel sambil tersenyum dengan binar mata yang sama seperti saat pertama kali Aku menyatakan cinta kepadanya.
.......
Terdengar teriakan panik orang-orang yang semakin kencang, dan suara ledakan yang jauh lebih keras. Bom jatuh tepat di atap rumah kami. Aku dan Abel terpental dari ruang makan. Kudapati Abel tertimbun reruntuhan puing berlumuran darah. Dan Aku menghilang dari kesadaran.

Komentar
Posting Komentar