Mi Instan Rasa Bahagia

 


Rasa sedih dan bahagia itu satu paket yang utuh, tidak terpisahkan. Seperti sepiring mi instan yang hari ini kita makan, Kamu harus merebusnya terlebih dahulu lalu membuka bumbunya satu persatu untuk kemudian diaduk menjadi satu —Serupa pepatah dulu, "Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian". Terdengar naif? Mungkin, karena untuk beberapa orang, menikmati mi instan cukup dengan mendatangi warung kopi langganan atau pesan lewat jasa penyedia layanan antar-jemput makanan. Tapi maaf ini bukan soal seberapa banyak privilege atau kemudahan yang bisa kita dapatkan. Ini semua tentang bagaimana kita ingin melihat dan merasakan kesulitan serta kesenangan hidup berdampingan. 

Tidak semua yang bergelimang harta hidup tenang. Tidak semua yang berkecukupan hidup senang; meski logika dan kenyataan pasti bertentangan sebab tinggal di rumah petak sambil makan mi instan bukanlah gambaran kehidupan yang mapan.

Salah seorang teman pernah mengatakan kalau kemapanan itu sejalan dengan kebahagiaan. Kemapanan merupakan sebuah kesanggupan individu untuk meraih kebahagiaan —Dan diri ini hanya bisa tertawa sebab mungkin benar begitu adanya, bahwa hidup bahagia itu adalah sebuah paradoks; bahwa taraf hidup tiap orang berbeda-beda maka kadar kebahagiaannya pun tidaklah sama. Ada yang menjadi mapan karena harta peninggalan orang tua, dan ada yang menjadi mapan demi menghidupi keluarga. Tapi ini juga bukan perkara benar atau salah, sebab terlahir kaya bukanlah sebuah dosa dan hidup miskin tidak melulu menderita. 

Tapi kita ini manusia; homo sapien yang memiliki tuntutan hasrat atas kepuasan yang kemudian menjadikannya sebagai realisasi dari pemenuhan akan gambaran hidup yang bahagia —Sebagaimana teori psikoanalisa Sigmund Freud sewaktu  belajar di bangku kuliah dulu. Mungkin dari situ terlahir pemahaman di kalangan para pendahulu kita bahwa sekalipun berbeda-beda, semua tuntutan atas pemenuhan hidup manusia harus ada ukurannya. Dan sayangnya sampai hari ini uang masih jadi urutan teratas dari serangkaian variabel yang ada —Mungkin dari sini akhirnya terbentuk logika sinis dalam diri kita semua bahwa "Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang".

Kemapanan mungkin memang bukan milik semua orang namun kebahagiaan sejatinya bisa dirasakan oleh kita semua. Mungkin kita bisa coba mengingat kembali bagaimana rasanya; ketika berhasil mengkhatamkan Quran untuk pertama kalinya, saat pacar memberikan kado ulang tahun yang istimewa, saat mengucap janji suci pernikahan di depan altar gereja, atau ketika mendapat promosi kenaikan jabatan di tempat kerja. Masih mampukah kita mengingat rasanya? Kalau tidak mari coba bantu diri kita dengan masuk kembali ke akun Facebook kita yang lama sudah tidak dibuka, atau pulihkan kembali sandi akun Twitter kita yang sudah terlupa. Jelajahi kembali lini masa. Siapa tahu alam bawah sadar kita di masa lalu sengaja meninggalkan pesan bahagia lewat unggahan foto, status atau cuitan untuk kita di masa sekarang. 

Tenang, ini bukan tentang penghakiman bagi mereka yang masih atau sedang tersesat dalam pencarian kebahagiaan. Ini cuma berbagi saran dan sudut pandang. 

Ini hanyalah sebuah tangkapan realitas seorang calon sarjana psikologi yang gagal memakai toga. Seorang pecinta seni yang gagal menjadi musisi ternama. Seorang anak yang gagal menjadi pemenuhan kepuasan atas kebanggaan orang tua.

Ini cuma sekedar tulisan; sebab menulis adalah sebuah cara agar diri ini tidak menjadi gila lalu gantung diri atau menembakan peluru ke kepala seperti yang ada di film-film bertema skizofrenia. 

Ini hanya sekedar tulisan, karena dengan menulis, tanpa sadar kita sedang menyimpan sebuah pesan bahagia untuk diri kita di masa mendatang. —Atau juga menulis bisa jadi sebuah opsi yang jitu sebagai pengalih perhatian; sebab malam ini mi instan telur kornet tampak begitu menggairahkan tapi apa daya berat badan sudah cukup mengkhawatirkan.



Komentar

Postingan Populer